Pentingnya Membangun Kultur Sekolah
Fatiha Azha (11901208)
PAI 4A
Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Kultur juga memiliki makna kebudayaan. Kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia (seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat). kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Suatu kebudayaan juga merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai karya yang dibuat oleh manusia). Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama. Begitu pula dengan kebudayaan atau kultur dalam sekolah. Setiap sekolah memiliki budaya sekolah yang berbeda dan mempunyai pengalaman yang tidak sama dalam membangun budaya sekolah. Perbedaan pengalaman inilah yang menggambarkan adanya “keunikan” dalam dinamika budaya sekolah.
Jadi
dalam hal ini budaya atau kultur sekolah mempengaruhi dalam dinamika kultur
sekolah yang tetap menekankan pentingnya kesatuan, stabilitas, dan harmoni
sosial pada sekolah, dan realitas sosial. Budaya sekolah juga memperngaruhi
kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam
merancang pelayanan sekolah.
Menurut
Schein (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003 : 3-4), kultur
sekolah adalah suatu pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan atau
pengembangan oleh suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi
masalah-masalah yang telah berhasil baik serta dianggap valid, dan akhirnya
diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara yang benar dalam memandang,
memikirkan, dan merasakan masalahmasalah tersebut. Menurut Zamroni (2005: 15),
kultur atau budaya dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah
yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai tertentu yang dianut
sekolah.
Jadi
kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas internal-latar, lingkungan,
suasana, rasa, sifat dan iklim yang dirasakan oleh seluruh orang. Kultur
sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks persekolahan, sehingga kultur
sekolah kurang lebih sama dengan kultur organisasi pendidikan. Kultur sekolah
dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan
berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah. Biasanya kultur
sekolah ditampilkan dalam bentuk bagaimana kepala sekolah, guru dan tenaga
kependidikan lainnya bekerja, belajar dan berhubungan satu sama lainnya
sehingga menjadi tradisi sekolah.
Kultur
sekolah bersifat dinamis. Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai
dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini
sangat sulit. Namun yang jelas dinamika kultur sekolah dapat saja menghadirkan
konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan
positif. Kultur sekolah itu milik kolektif dan merupakan perjalanan sejarah
sekolah, produk dari berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah. Sekolah perlu
menyadari secara serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada
seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan
negatif, kultur kacau dan stabil dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah.
Mengingat pentingnya sistem nilai yang diinginkan untuk perbaikan sekolah, maka
langkahlangkah kegiatan yang jelas perlu disusun untuk membentuk kultur sekolah
(Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 7).
Kultur sekolah bukan sekedar kultur di sekolah. Kultur sekolah dimiliki oleh tiap-tiap sekolah. Masing-masing sekolah dapat mengembangkan keunikan dan ciri khas melalui kultur sekolah. Oleh karenanya terdapat variasi kultur di sejumlah sekolah. Pengembangan kultur di masing-masing sekolah dapat disesuaikan dengan aspek-aspek yang dianggap penting oleh masing-masing sekolah, seperti: visi-misi, kondisi dan potensi sekolah. Sejumlah sekolah lebih menekankan kultur sekolah yang fokus untuk mendorong pencapaian prestasi akademik. Namun sejumlah sekolah yang lain lebih fokus pada aspek non-akademik. Hal tersebut sangat dimungkinkan, mengingat para siswa yang mendapatkan layanan pendidikan memiliki kecerdasan majemuk (multiple intelligences) yang bervariasi. Adapun kultur sekolah yang dapat dikembangkan antara lain yang kondusif bagi pengembangan :
1. Prestasi
Akademik
Di
sekolah yang menghargai prestasi akademik, terjadi proses penciptaan iklim
akademik (academic athmosphere) yang bertujuan untuk mencapai prestasi
akademik. Prestasi akademik ini biasanya terkait dengan sejumlah mata pelajaran
pokok yang dipelajari di sekolah. Sebagian besar orang tua siswa cenderung menghargai
prestasi akademik daripada prestasi lainnya.
2. Non-Akademik
Prestasi
non-akademik juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang menghargai
prestasi olah-raga, seni, dan ketrampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan
demokrasi juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang
(space) yang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi,
berkreasi, berpikir secara kritis, berperilaku humanis. Selama ini kebanyakan
sekolah menganggap penting prestasi akademik siswa. Profil kecerdasan majemuk
siswa yang bervariasi seringkali terabaikan. Padahal dalam realitasnya,
kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik yang telah
dimiliki, melainkan juga disebabkan oleh prestasi non-akademiknya.
3. Karakter
Karakter
berkaitan dengan moral dan berkonotasi positif. Pendidikan untuk pembangunan
karakter pada dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana atau
lingkungan yang menggugah, mendorong, dan memudahkan seseorang mengembangkan
kebiasaan yang baik. Karakter bersifat inside-out,maksudnya bahwa perilaku yang
berkembang menjadi kebiasaan baik ini terjadi karena adanya dorongan dari
dalam, bukan karena paksaan dari luar. Adapun variasi nilai karakter yang dapat
dikembangkan melalui kultur sekolah antara lain: yang kondusif bagi
pengembangannilai-nilai religius, nilai demokrasi, kedisiplinan, kejujuran,
ramah anak, anti kekerasan, dan lain-lain.
4. Kelestarian
Lingkungan Hidup
Sejumlah
sekolah di berbagai level (SD, SMP, SMA) mendapatkan penghargaan dan predikat
sebagai sekolah adiwiyata, yaitu sekolah menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Penghargaan tersebut perlu diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya sekolah
berwawasan lingkungan. Namun demikian, predikat sekolah adiwiyata tidak muncul
dengan sendirinya tanpa diupayakan melalui pengembangan kultur sekolah ramah
lingkungan. Sejumlah sekolah yang fokus dalam pengembangan sekolah hijau (green
school) memiliki visi-misi yang berorientasi pada kehidupan dan kondisi
lingkungan masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan (sustainability). Untuk
mewujudkannya, memerlukan komitmen bersama seluruh warga sekolah dalam
pengembangan kultur sekolah yang ramah lingkungan.
Peran
kultur di sekolah sangat mempengaruhi perubahan sikap maupun perilaku dari
warga sekolah. Kultur sekolah yang positif akan menciptakan suasana kondusif
bagi tercapainya visi dan misi sekolah, demikian sebaliknya kultur yang negatif
akan membuat pencapaian visi dan misi sekolah mengalami banyak kendala. Kultur
sekolah yang baik misalnya kemauan menghargai hasil karya orang lain,
kesungguhan dalam melaksanakan tugas dan kewajiban, motivasi untuk terus
berprestasi, komitmen serta dedikasi kepada tanggungjawab. Sedangkan kultur
yang negatif misalnya kurang menghargai hasil karya orang lain, kurang
menghargai perbedaan, minimnya komitmen, dan tiadanya motivasi berprestasi pada
warga sekolah. Dalam membentuk dan membangun kultur yang baik untuk peserta
didik maka perlu ditingkatkan motivasi belajar dan pentingnya kedisiplinan,
kejujuran dan motivasi berprestasi sehingga kompetisi antar peserta didik akan
tercipta. Contoh kultur negatif yang masih sering dilakukan peserta didik
antara lain masih kurang diperhatikannya persoalan kedisiplinan, ini terbukti
dari angka keterlambatan yang cukup tinggi.
Terhadap
kultur yang dibawa oleh kecanggihan teknologi memang tidak semuanya baik. Kita
perlu menyaring, memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik.
Tidak semuanya konsekuensi teknologi itu kita biarkan, diperlukan adaptasi,
bukan adopsi. Namun adanya sisi negatif itu bukan berarti kita harus menutup
diri dari teknologi, kalau kita antipati maka kita pasti semakin tertinggal.
Upaya
membangun kultur sekolah berbasis motivasi. Karena itu, dikemukakan sejumlah
masalah mencakup :
a. bagaimana
manajemen sekolah dalam membangun kultur yang ideal
b. bagaimana
membangun kultur guru sehingga memiliki etos kompetitif berbasis keunggulan
c. bagaimana
membangun kultur siswa (belajar) sehingga nalar dan sikap ajar dapat berpijar.
Untuk
membangun kultur sekolah yang ideal, maka perlu komponen penting sekolah
sebagai potensi dasarnya. Adapun Komponen potensial itu mencakup :
a. manajerial
KS
b. kualitas
guru
c. kualitas
input
d. kualitas
SDM pendukung lain
e. kualitas
perpustakaan
f.
kualitas sarana prasarana
g. kualitas
“budaya” di sekolah itu sendiri
Untuk
membangun kultur sekolah, maka dibutuhkan suatu cara dan perbuatan, hal ini
merupakan proses pembangunan. Pembangunan berisi suatu kompleks tindakan
manusia yang cukup rumit yang melibatkan sejumlah pranata dalam masyarakat
sekolah. Terkait dengan manajemen sekolah untuk mendorong kultur sekolah yang
positif maka upaya membangun kultur sekolah dapat dilakukan dengan beberapa cara
yaitu :
a. perlunya manajemen sekolah berbasis motivasi. Hal ini penting, mengingat problem terbesar bangsa ini adalah masalah motivasi dan etos. Motivasi akan mampu meciptakan komitmen, komitmen akan melahirkan etos, etos menciptakan daya gerak, daya gerak akan menciptakan perubahan. Kultur sekolah yang baik, adalah yang mampu menciptakan perubahan. Dan, perubahan bermuara pada motivasi.
b. Perlunya manajemen sekolah berbasis
komunikasi. Manajemen ini, menekankan akan pentingnya kesadaran bahwa etos
profesionalitas (mutu), sangat ditentukan oleh kualitas komunikasi. Semakin
jernih komunikasi sekolah, dapat diprediksi kultur sekolah yang jernih pula.
Sekolah dalam manajemen prasangka, misalnya, tidak akan terjadi karena chanel
komunikasi telah terfasilitasi.
c. perlunya manajemen sekolah berbasis reward
and punishmen. Artinya, dalam kepemimpinan modern dua hal itu merupakan “bahasa
komunikasi professional” yang mutlak dibutuhkan. Sehingga penempatan orang
didasarkan penghargaan atas kualitas kerja bukan pada like dan dislike.
Sedangkan, hukuman penting dipikirkan untuk menegakkan aturan main institusi
sehingga kultur sekolah berjalan atas aturan baku yang mengikat dan tidak
pandang bulu.
d. perlunya manajemen sekolah berbasis baca
tulis. Manajemen ini, nyaris tidak pernah tersentuh oleh sekolah. Tak pernah
terpikirkan bahwa guru (komponen sekolah) setiap saat penting untuk
meningkatkan kualitas melalui dua budaya ini. Hal ini, mengingat dua hal
tersebut merupakan unsur penting dalam tradisi pengembangan SDM mutakhir untuk
menuju kultur sekolah yang berkualitas.
e. perlunya manajemen sekolah berbasis
jaringan. Kemajuan sekolah di era mutakhir, mau tidak mau, sangat ditentukan
oleh kemampuan membangun jaringan dengan pihak eksternal.